kangen ibu

June 15th, 2008 by emil-we

i miss u mom . .

i love u.

Bookmark and Share

dimana

May 31st, 2008 by emil-we

hidup,

ah… kenapa masih terus manipulatif.

Bookmark and Share

Pagi- di Ranukumbolo

May 31st, 2008 by emil-we

Di tepian melingkar

Takjub alam deras terpancar

Tibalah –

Daun cemara rebah

Pepohon tua tumbang berpasrah

Lihat saja.

linangan hampar danau yang mengiring pancar tangan matahari –

menyentuhi kepala lembah.

Sementara itu –

Diantara waktu.

Langit menggelar kabut-kabut

Pucuk cemara berisik

Dan dinginpun kalut berselimut.

Kukata :

Inilah serpih surga yang tak terkata.

Hingga hinggaplah di tarian ilalang –

Pada tanah yang bermahkota kembang edelweiss.

Sesekali burung dan elang jawa terbang mengitar mengicau cerita. tentang sejarah betapa indah telah menjadi katabenda.

Aku mencintai ini semua,

Rerumputan liar di padang Pangonan Alit – dan Padang Ombo.

keterjalan Tanjakan Cinta –Waturejeng – dan bukit Kumbolo.

Ah,

Aku berdoa atas ini semua.

Ketakjuban akan jiwa-jiwa yang lepas

Terbang bersama angin dan matahari

Kala mencoba menaklukkan diri sendiri.

Tepian danau Ranukumbolo,

Serpihan surga di atas bumi Mahameru

Bookmark and Share

May 31st, 2008 by emil-we

Di tepian melingkar

Takjub alam deras terpancar

Tibalah –

Daun cemara rebah

Pepohon tua tumbang berpasrah

Lihat saja.

linangan hampar danau yang mengiring pancar tangan matahari –

menyentuhi kepala lembah.

Sementara itu –

Diantara waktu.

Langit menggelar kabut-kabut

Pucuk cemara berisik

Dan dinginpun kalut berselimut.

Kukata :

Inilah serpih surga yang tak terkata.

Hingga hinggaplah di tarian ilalang –

Pada tanah yang bermahkota kembang edelweiss.

Sesekali burung dan elang jawa terbang mengitar mengicau cerita. tentang sejarah betapa indah telah menjadi katabenda.

Aku mencintai ini semua,

Rerumputan liar di

padang

Pangonan Alit – dan Padang Ombo.

keterjalan Tanjakan Cinta –Waturejeng – dan bukit Kumbolo.

Ah,

Aku berdoa atas ini semua.

Ketakjuban akan jiwa-jiwa yang lepas

Terbang bersama angin dan matahari

Kala mencoba menaklukkan diri sendiri.

Tepian danau Ranukumbolo,

Serpihan surga di atas bumi Mahameru

18 Agustus 2006

Bookmark and Share

Puisi Alam : ARCOPODO

May 30th, 2008 by emil-we

Mungkin inilah-

Yang dicari dari jiwa –

dengan semangat yang berkibar.

menjalankan –menyapakan

cemara dan sinar matahari

yang menyentuhi atau tak menyentuhi

dasar-dasar jurangmu –Arcopodo.

Gigir-gigir pasir dan bukit yang menggetar

Nyali manusia mengenali diri dan Tuhannya.

Jejak-jejak seperti tapak

Yang terukir dari padang Kalimati hingga Atap Tanahjawa.

Dan menyesakkan cinta,

Seperti tempat bersemayamnya sukma-sukma pendaki

Yang tak letih

Menyapamu –Arcopodo.

Seperti ukiran nama-nama yang terpaku –dingin –dan beku

Yang tak lelah menemanimu –Arcopodo.

Dan tebing-tebing yang menyerpih di sela

Sinar matahari yang tenggelam itu

Aku rindu –Arcopodo.

Seperti rindunya menyaksi awan-awan

Berurai-urai,

Menutup wajah bumimu –Arcopodo.

Debu-debu beserta puncak Mahameru

Menyapamu –selalu.

Bersama nama para pendaki yang terpaku –

Menemanimu –selalu –Arcopodo.

Bersama semangat yang masih tertinggal dan takkan hilang

Ketika :

Jalan menuju surga tak pernah menemukan jalan –

Keluarmu –Arcopodo.

Semoga –

Jiwa dan nama mereka –

teduh dan damai di punggungmu –Arcopodo.

Dan lepaslah mereka

Untuk bertahta di genggam sinar matahari kala tenggelam –

Di matamu –Arcopodo.

Bookmark and Share

Cerita : Dengan hati – kamipun berikrar menjadi Saudara, walau tanpa suara I

May 27th, 2008 by emil-we

Dengan hati – kamipun berikrar menjadi Saudara, walau tanpa suara.

Kala itu saya terpisah dari rombongan dengan bekal seadanya. Hanya Sendal jepit dan kaos kaki, serta sebotol air bening 150 mililiter yang isinya tinggal setengah.

Dan diatas kepala, bulan yang sedari tadi saya tampak telah tertutupi   gundukan ceruk pasir. Antara takut dan tidak akhirnya saya memutuskan untuk tetap maju dengan pilihan jalur yang tanpa tahu. Bayangan dan suara kawan-kawan telah lenyap. Hanya ada tujuh pendaki gunung yang berada diatas saya dan mengambil rute yang sama.

Kala itu  saya terpisah di Gundukan ”jalan menuju surga”, begitulah sebutan bagi puncak Pasir di atap tanah Jawa, Gunung Mahameru. Disini tak ada jalur resmi yang meninggalkan jejak dengan jelas. Apalagi tengah malam waktu itu, kami telah menempuh sekitar 1.5 jam tanjakan perjalanan. Berarti nafas sudah tinggal separuh, fisik pun telah cukup terkuras.

Dari tempat istirahat, bisa saya lihat terjalnya jurang pasir yang dalam. Apalagi ditambah dengan kesunyian dan kesenyapan puncak Mahameru, suasana menjadi begitu menggetarkan. Melihat itu, seketika hati saya berdesir dengan lutut gemetar. Apalagi jarak antara saya dan pendaki dengan posisi terdekat  masih berkisar 150 meter.  Mungkin dibutuhkan 30 menit untuk menyusul mereka.

akibat rasa takut untuk terjatuh di ceruk pasir dingin itu, saya mencoba mengejar sambil sesekali memanggil-manggil kawan pendaki yang berada diatas saya. Sekenanya, sebisanya, sekuat-kuatnya. Dan untunglah, beberapa pendaki itu memberikan petunjuk kepada saya dengan kilatan lampu senter yang dikedip kedipkan. Dan agaknya mereka tahu, bahwa saya tersesat dari rombongan tanpa membawa alat penerangan satupun.

(Bersambung)

 

Bookmark and Share

Alegori

May 27th, 2008 by emil-we

Idealisme itu tak akan hilang, namun akan berubah bentuk.

Begitulah kata-kata yang pernah diucapkan oleh senior saya tempo membicarakan sesuatu yang semrawut  beberapa  tahun lalu. Setelah berpikir sejenak, akhirnya saya memutuskan sepakat, sekaligus manggut-manggut mengiyakan pendapatnya. Dan memang benar barangkali, stagnasi adalah simbol kemandegan yang tidak berkembang. Upaya untuk mempertahankan identitas tanpa memaknai dan memperkaya nilai, hanya akan menjadi barang langka yang sepadan dengan romantisme kesedihan. 

Idealisme mungkin saja dinilai dari kemampuan untuk tak mengikut arus.  Namun bukan atas dasar ketertinggalan jaman, tetapi atas dasar memegang ideologi dan jalan hidup tertentu. Idealisme dinilai dari kekukuhan dalam mempertahankan nilai kekayaan dan kebijakan, tentunya atas dasar nilai kemanusiaan yang diiyakan oleh kebenaran universal.

Idealisme tanpa bentuk hanya akan menjadi hantu waktu. Gentanyangan dan menakutkan.

Dan pertanyaan paling mendasar yang selalu saja kutanyakan pada Nya adalah : ”Ah Tuhan, bukankah Kau selalu saja mengajarkan kami makna idealisme sampai mati”. Iyakah ?

Bookmark and Share

Ibu

May 27th, 2008 by emil-we

Dan –

Hari ini aku gagal pulang lagi. Walaupun sebenarnya aku kangen sekali dengan perempuan yang menjadi semangatku. Aku sama sekali tak faham, betapa pengaruh ibu begitu kuat pada anaknya. Walaupun ia hanya diam dan tak berkata. Dan Memang benar- di mata para ibu aku melihat surga.

Bookmark and Share

puisi : FALENTIN pake huruf F bukan V

May 27th, 2008 by emil-we

aku ingin melukis kebiruan denganmu
suatu yang haru.
sesuatu yang ingin aku beritahu

karena suatu ketika:
aku melihat langit yang tinggi
samudera yang dalam
juga tegaknya gunung
mereka semua biru.

aku ingin memandangmu seperti memandang langit
menatapmu seperti menatap samudera
dan melihatmu seperti mengagumi gunung

karena -
kau yang lebih misteri dan jiwa ingin terus kukenal
kau tulisan tersimpan yang ingin terus kubaca
kau larik bait puisi yang ingin terus kuartikan

perempuan

140207

Bookmark and Share

S I K L U S

April 21st, 2008 by emil-we

Tuhan,

Kau berikan aku

 

mata yang
bagaikan kuas –

dengan hati
sebagai kanvas

yang sedemikian
besar –luas –tinggi –dan dalam

 

sedang alam
adalah :

parawarna –biru
–jingga –merah –bening –hitam –putih –dan perpaduannya

 

kulukis DiriMu
mulai dari namaMu yang mahanya tak terikat maknakata

dari MahaMu
yang Satu hingga kesekian kesekian kesekian

 

aku melukis dari
apa yang kurasa

mulai dari
desir hati ketika menatap para kuasaMu –para sentuhMu

 

Peristiwa –kejadian

 

bagaimana
matahari

bagaimana
rembulan

bagaimana awan

bagaimana
langit

bagimana
bintang

bagaimana galaksi

bagaimana
manusia

 

berjalan –datang
–dan pergi

pergi –datang –dan
berjalan

 

aku enorah
warna demi warna

gurat demi
gurat

cerat demi
cerat

dari reratMu
yang kurasa tanpa jeda

 

aku mengecati
pemahamanku dengan apa apa

yang Kau
kesankan padaku

 

tentang KasihMu

tentang BaikMu

tentang
bagaimana pendar awan itu Kau buat

dan sedemikian
hingga membuat manusia tersenyum

ya –tersenyum
bahagia –ketika hatinya luka

tentang
sayangMu

tentang rinduMu

tentang
bagaimana Kau ajak hati ini menari ketika :

pijakan kaki
mulai merapuh –jatuh

tentang belaiMu

tentang lembutMu

tentang
bagaimana Kau buat bintang berkerdip kerlip –dipelukMu

dan Kau
menunjuk pada arah cahayanya ketika manusia sedih

 

bagaimana Kau
hibur para hati yang repih

dengan
kerinduan pertemuan

 

setiap hari
setiap saat

setiap ada kata
yang ternyata :

semua bermuara
padaMu

 

kuasa yang
tercantik

kuasa yang
terindah

kuasa yang
tanpacela

bagaimana aku
bisa Tuhan –

bagaimana aku
bisa . .

tinta –tinta
kehidupan akan habis –tak bersisa

jika dipaksakan
menulis tentang diriMu

diri yang
lincah –diri yang selalu lepas jika ingin ditangkap

diri yang
selalu mencandukan rindu – pada penatapNya

 

dari bumi
semuanya hanya punya arti

membukakan
tangannya

membentang
pelukan rindu

menanti
kehangatan

menunggu
persekutuan

 

betapa :

Tuhan –

 

Ajarkan untuk
tak puas mengenalMu

ajarkan untuk
tak berhenti di titik.

 

Untuk retas

untuk lekas

meneguk nikmat
semu

dari harap yang
ternyata bukan itu.

Iyakah ?

 

amin.

 

 

09 Februari 2006

 

Bookmark and Share