dimana
May 31st, 2008 by emil-wePagi- di Ranukumbolo
May 31st, 2008 by emil-weDi tepian melingkar
Takjub alam deras terpancar
Tibalah –
Daun cemara rebah
Pepohon tua tumbang berpasrah
Lihat saja.
linangan hampar danau yang mengiring pancar tangan matahari –
menyentuhi kepala lembah.
Sementara itu –
Diantara waktu.
Langit menggelar kabut-kabut
Pucuk cemara berisik
Dan dinginpun kalut berselimut.
Kukata :
Inilah serpih surga yang tak terkata.
Hingga hinggaplah di tarian ilalang –
Pada tanah yang bermahkota kembang edelweiss.
Sesekali burung dan elang jawa terbang mengitar mengicau cerita. tentang sejarah betapa indah telah menjadi katabenda.
Aku mencintai ini semua,
Rerumputan liar di padang Pangonan Alit – dan Padang Ombo.
keterjalan Tanjakan Cinta –Waturejeng – dan bukit Kumbolo.
Ah,
Aku berdoa atas ini semua.
Ketakjuban akan jiwa-jiwa yang lepas
Terbang bersama angin dan matahari
Kala mencoba menaklukkan diri sendiri.
Tepian danau Ranukumbolo,
Serpihan surga di atas bumi Mahameru
May 31st, 2008 by emil-we
Di tepian melingkar
Takjub alam deras terpancar
Tibalah –
Daun cemara rebah
Pepohon tua tumbang berpasrah
Lihat saja.
linangan hampar danau yang mengiring pancar tangan matahari –
menyentuhi kepala lembah.
Sementara itu –
Diantara waktu.
Langit menggelar kabut-kabut
Pucuk cemara berisik
Dan dinginpun kalut berselimut.
Kukata :
Inilah serpih surga yang tak terkata.
Hingga hinggaplah di tarian ilalang –
Pada tanah yang bermahkota kembang edelweiss.
Sesekali burung dan elang jawa terbang mengitar mengicau cerita. tentang sejarah betapa indah telah menjadi katabenda.
Aku mencintai ini semua,
Rerumputan liar di
padang
Pangonan Alit – dan Padang Ombo.
keterjalan Tanjakan Cinta –Waturejeng – dan bukit Kumbolo.
Ah,
Aku berdoa atas ini semua.
Ketakjuban akan jiwa-jiwa yang lepas
Terbang bersama angin dan matahari
Kala mencoba menaklukkan diri sendiri.
Tepian danau Ranukumbolo,
Serpihan surga di atas bumi Mahameru
18 Agustus 2006
Puisi Alam : ARCOPODO
May 30th, 2008 by emil-weMungkin inilah-
Yang dicari dari jiwa –
dengan semangat yang berkibar.
menjalankan –menyapakan
cemara dan sinar matahari
yang menyentuhi atau tak menyentuhi
dasar-dasar jurangmu –Arcopodo.
Gigir-gigir pasir dan bukit yang menggetar
Nyali manusia mengenali diri dan Tuhannya.
Jejak-jejak seperti tapak
Yang terukir dari padang Kalimati hingga Atap Tanahjawa.
Dan menyesakkan cinta,
Seperti tempat bersemayamnya sukma-sukma pendaki
Yang tak letih
Menyapamu –Arcopodo.
Seperti ukiran nama-nama yang terpaku –dingin –dan beku
Yang tak lelah menemanimu –Arcopodo.
Dan tebing-tebing yang menyerpih di sela
Sinar matahari yang tenggelam itu
Aku rindu –Arcopodo.
Seperti rindunya menyaksi awan-awan
Berurai-urai,
Menutup wajah bumimu –Arcopodo.
Debu-debu beserta puncak Mahameru
Menyapamu –selalu.
Bersama nama para pendaki yang terpaku –
Menemanimu –selalu –Arcopodo.
Bersama semangat yang masih tertinggal dan takkan hilang
Ketika :
Jalan menuju surga tak pernah menemukan jalan –
Keluarmu –Arcopodo.
Semoga –
Jiwa dan nama mereka –
teduh dan damai di punggungmu –Arcopodo.
Dan lepaslah mereka
Untuk bertahta di genggam sinar matahari kala tenggelam –
Di matamu –Arcopodo.
Cerita : Dengan hati – kamipun berikrar menjadi Saudara, walau tanpa suara I
May 27th, 2008 by emil-we
Dengan hati – kamipun berikrar menjadi Saudara, walau tanpa suara.
Kala itu saya terpisah dari rombongan dengan bekal seadanya. Hanya Sendal jepit dan kaos kaki, serta sebotol air bening 150 mililiter yang isinya tinggal setengah.
Dan diatas kepala, bulan yang sedari tadi saya tampak telah tertutupi gundukan ceruk pasir. Antara takut dan tidak akhirnya saya memutuskan untuk tetap maju dengan pilihan jalur yang tanpa tahu. Bayangan dan suara kawan-kawan telah lenyap. Hanya ada tujuh pendaki gunung yang berada diatas saya dan mengambil rute yang sama.
Kala itu saya terpisah di Gundukan ”jalan menuju surga”, begitulah sebutan bagi puncak Pasir di atap tanah Jawa, Gunung Mahameru. Disini tak ada jalur resmi yang meninggalkan jejak dengan jelas. Apalagi tengah malam waktu itu, kami telah menempuh sekitar 1.5 jam tanjakan perjalanan. Berarti nafas sudah tinggal separuh, fisik pun telah cukup terkuras.
Dari tempat istirahat, bisa saya lihat terjalnya jurang pasir yang dalam. Apalagi ditambah dengan kesunyian dan kesenyapan puncak Mahameru, suasana menjadi begitu menggetarkan. Melihat itu, seketika hati saya berdesir dengan lutut gemetar. Apalagi jarak antara saya dan pendaki dengan posisi terdekat masih berkisar 150 meter. Mungkin dibutuhkan 30 menit untuk menyusul mereka.
akibat rasa takut untuk terjatuh di ceruk pasir dingin itu, saya mencoba mengejar sambil sesekali memanggil-manggil kawan pendaki yang berada diatas saya. Sekenanya, sebisanya, sekuat-kuatnya. Dan untunglah, beberapa pendaki itu memberikan petunjuk kepada saya dengan kilatan lampu senter yang dikedip kedipkan. Dan agaknya mereka tahu, bahwa saya tersesat dari rombongan tanpa membawa alat penerangan satupun.
(Bersambung)
Alegori
May 27th, 2008 by emil-we
Idealisme itu tak akan hilang, namun akan berubah bentuk.
Begitulah kata-kata yang pernah diucapkan oleh senior saya tempo membicarakan sesuatu yang semrawut beberapa tahun lalu. Setelah berpikir sejenak, akhirnya saya memutuskan sepakat, sekaligus manggut-manggut mengiyakan pendapatnya. Dan memang benar barangkali, stagnasi adalah simbol kemandegan yang tidak berkembang. Upaya untuk mempertahankan identitas tanpa memaknai dan memperkaya nilai, hanya akan menjadi barang langka yang sepadan dengan romantisme kesedihan.
Idealisme mungkin saja dinilai dari kemampuan untuk tak mengikut arus. Namun bukan atas dasar ketertinggalan jaman, tetapi atas dasar memegang ideologi dan jalan hidup tertentu. Idealisme dinilai dari kekukuhan dalam mempertahankan nilai kekayaan dan kebijakan, tentunya atas dasar nilai kemanusiaan yang diiyakan oleh kebenaran universal.
Idealisme tanpa bentuk hanya akan menjadi hantu waktu. Gentanyangan dan menakutkan.
Dan pertanyaan paling mendasar yang selalu saja kutanyakan pada Nya adalah : ”Ah Tuhan, bukankah Kau selalu saja mengajarkan kami makna idealisme sampai mati”. Iyakah ?
Ibu
May 27th, 2008 by emil-wepuisi : FALENTIN pake huruf F bukan V
May 27th, 2008 by emil-weaku ingin melukis kebiruan denganmu
suatu yang haru.
sesuatu yang ingin aku beritahu
karena suatu ketika:
aku melihat langit yang tinggi
samudera yang dalam
juga tegaknya gunung
mereka semua biru.
aku ingin memandangmu seperti memandang langit
menatapmu seperti menatap samudera
dan melihatmu seperti mengagumi gunung
karena -
kau yang lebih misteri dan jiwa ingin terus kukenal
kau tulisan tersimpan yang ingin terus kubaca
kau larik bait puisi yang ingin terus kuartikan
perempuan
140207
S I K L U S
April 21st, 2008 by emil-weTuhan,
Kau berikan aku
mata yang
bagaikan kuas –
dengan hati
sebagai kanvas
yang sedemikian
besar –luas –tinggi –dan dalam
sedang alam
adalah :
parawarna –biru
–jingga –merah –bening –hitam –putih –dan perpaduannya
kulukis DiriMu
mulai dari namaMu yang mahanya tak terikat maknakata
dari MahaMu
yang Satu hingga kesekian kesekian kesekian
aku melukis dari
apa yang kurasa
mulai dari
desir hati ketika menatap para kuasaMu –para sentuhMu
Peristiwa –kejadian
bagaimana
matahari
bagaimana
rembulan
bagaimana awan
bagaimana
langit
bagimana
bintang
bagaimana galaksi
bagaimana
manusia
berjalan –datang
–dan pergi
pergi –datang –dan
berjalan
aku enorah
warna demi warna
gurat demi
gurat
cerat demi
cerat
dari reratMu
yang kurasa tanpa jeda
aku mengecati
pemahamanku dengan apa apa
yang Kau
kesankan padaku
tentang KasihMu
tentang BaikMu
tentang
bagaimana pendar awan itu Kau buat
dan sedemikian
hingga membuat manusia tersenyum
ya –tersenyum
bahagia –ketika hatinya luka
tentang
sayangMu
tentang rinduMu
tentang
bagaimana Kau ajak hati ini menari ketika :
pijakan kaki
mulai merapuh –jatuh
tentang belaiMu
tentang lembutMu
tentang
bagaimana Kau buat bintang berkerdip kerlip –dipelukMu
dan Kau
menunjuk pada arah cahayanya ketika manusia sedih
bagaimana Kau
hibur para hati yang repih
dengan
kerinduan pertemuan
setiap hari
setiap saat
setiap ada kata
yang ternyata :
semua bermuara
padaMu
kuasa yang
tercantik
kuasa yang
terindah
kuasa yang
tanpacela
bagaimana aku
bisa Tuhan –
bagaimana aku
bisa . .
tinta –tinta
kehidupan akan habis –tak bersisa
jika dipaksakan
menulis tentang diriMu
diri yang
lincah –diri yang selalu lepas jika ingin ditangkap
diri yang
selalu mencandukan rindu – pada penatapNya
dari bumi
semuanya hanya punya arti
membukakan
tangannya
membentang
pelukan rindu
menanti
kehangatan
menunggu
persekutuan
betapa :
Tuhan –
Ajarkan untuk
tak puas mengenalMu
ajarkan untuk
tak berhenti di titik.
Untuk retas
untuk lekas
meneguk nikmat
semu
dari harap yang
ternyata bukan itu.
Iyakah ?
amin.
09 Februari 2006